Kamis, 27 November 2014

cacing tanah sebagai obat thypus

CACING TANAH SEBAGAI OBAT THYPUS

Karya Tulis

Diajukan untuk memenuhi tugas akhir dan syarat mengikuti tes semester
Mata pelajaran Bahasa Indonesia Tahun Pelajaran 2012 / 2013


 





   




Di susun oleh :
Nama                  :   Effendi
No. Absen          :   32
Kelas                  :   XI IPA 1
Program              :   Ilmu Pengetahuan Alam
 


BADAN PELAKSANA PENDIDIKAN MA’ARIF NU
SUNAN DJA’FAR SHADIQ SEKOLAH MENENGAH ATAS
SMA NU AL MA’RUF KUDUS
TERAKREDITASI A
Jl. AKBP. R. Agilkusumadya No. 2 Telp. 438939 Kudus



ABSTRAKSI

            Karya tulis yang berjudul “Cacing Tanah Sebagai Obat Thypus”, ini berisi mengenai hasil penelitian para ahli dalam mengkaji senyawa-senyawa herbal yang dapat digunakan sebagai pengobatan alternatif untuk menunjang kesehatan manusia. Latar belakang karya tulis ini adalah keadaan masyarakat yang kurang memahami dalam memanfaatkan lingkungan sekitar, khususnya berupa komponen- komponen biotik seperti tanaman dan hewan. Karena dengan mempelajari hal tersebut, penulis menjadi lebih mengetahui dan mengenal zat-zat yang akif dalam proses penyembuhan suatu penyakit dengan nilai ekonomi yang mudah terjangkau.
            Metode penelitian dalam karya tulis ini menggunakan metode literature (kepustakaan), adapun data-data tersebut penulis peroleh dari buku- buku maupun sumber referensi lain yaitu dengan menggunakan metode internet, sehingga penulis dalam membuat karya tulis mampu mengetahui dan mencari informasi secara langsung melalui internet maupun berasal dari sumber buku.
            Hendaknya kita sebagai makhluk tuhan yang diberikan kesempunaan berupa akal pikiran, dapat digunakan untuk selalu giat dalam mengkaji manfaat-manfaat dari komponen yang ada di sekeliling kita. Demikian penjelasan singkat dari penulis, semoga bermanfaat bagi penulis dan pembaca yang budiman.








PENGESAHAN

           Karya Tulis yang berjudul “Cacing Tanah Sebagai Obat Thypus” ini telah disetujui serta disyahkan oleh pembimbing dan Kepala SMA NU AL MA’RUF  Kudus pada:
Hari       :
Tanggal:





Mengetahui,
Kepala SMA NU AL MA’RUF                                 Pembimbing


Drs. H. Shodiqun, M.Ag.                                          Sudiarti, S.Pd







MOTTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO
1.     kunci keberhasilan adalah kedisiplinan dan kejujuran
2.     Sederhana dalam ucapan, luar biasa dalam tindakan
3.     Tidak perlu melakukan sesuatu hal yang ekstrim untuk mendapatkan hal yang baru, tetapi mulailah dari perkara yang kecil
4.      Sebaik-baik manusia adalah dia yang bermanfaat bagi orang lain
5.     Where there is a will, there is a way



PERSEMBAHAN
Karya Tulis ini penulis persembahkan kepada;
1.      Ayahanda dan Ibunda tercinta
2.      Teman-teman kelas XI IPA 1
3.      Dan semua pihak yang telah membantu dalam penulisan karya tulis ini.






KATA PENGANTAR

               Puji syukur kepada ALLAH SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga karya tulis yang berjudul “CACING TANAH SEBAGAI OBAT THYPUS” ini, dapat diselesaikan.
              Karya tulis ini,disusun untuk melengkapi persyaratan guna memenuhi tugas semester mata pelajaran Bahasa Indonesia SMA NU AL MA’RUF Kudustahun pelajaran 2012/2013serta menambah wawasan pembaca.
Penulisan karya tulis ini tidak akan pernah selesai tanpa dukungan dan bantuan dari beberapa pihak.oleh karena itu, pada kesempatan kali ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1.      Drs. H. Shodiqun, M.Ag. selaku Kepala SMA NU AL MA’RUF Kudus, yang telah memberikan dukungan dalam penyusunan makalah ini.
2.       Sudiarti, S.Pd selaku pembimbing dalam penulisan karya tulis ini.
3.      Semua pihak yang telah membantu penyusunan karya tulis ini.
             Penulis menyadari bahwa karya tulis ini belum sempurna.oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan.Semoga karya tulis ini dapat memberikan manfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya.
Kudus,

Penulis

                                               
                                                       
DAFTAR  ISI

HALAMAN JUDUL .................................................................................   i
ABSTRAKSI ..............................................................................................   ii
HALAMAN PENGESAHAN ...................................................................   iii
HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN .......................................   iv
KATA PENGANTAR ...............................................................................   v
DAFTAR ISI ..............................................................................................   vi

BAB I PENDAHULUAN .........................................................................   1
1.1  Latar Belakang ................................................................................   1
1.2  Rumusan Masalah ...........................................................................   2
1.3  Tujuan Penulisan .............................................................................   2
1.4  Manfaat Penulisan ...........................................................................   3
1.5  Metode Pengumpulan Data ............................................................   3
1.6  Sistematika Penulisan ......................................................................   3

BAB II KAJIAN PUSTAKA ....................................................................   5
2.1   Klasifikasi Ilmiah ...........................................................................   5
2.2  Pengertian Cacing (VERMES)........................................................   5
2.3  Struktur Tubuh Cacing Tanah .........................................................   7
2.4  Reproduksi Cacing Tanah ...............................................................   8
2.5  Thypus .............................................................................................   8

BAB III PEMBAHASAN .........................................................................   9
3.1  Manfaat Lumbricus Rubellus ..........................................................   9
3.2  Kandungan Nutrisi Lumbicus Rubellus .......................................... 10
3.3  Zat Penyembuh Penyakit Thypus ................................................... 11
3.3.1 Senyawa Golongan Alkaloid ................................................. 12
3.4  Cara Pengolahan Cacing Tanah ...................................................... 12
BAB IV PENUTUP ................................................................................... 14
4.1  Simpulan ......................................................................................... 14
4.2  Saran ............................................................................................... 14

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
           







BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Dewasa ini penggunaan berbagai macam organisme baik hewan maupun tumbuhan banyak digunakan oleh para ahli untuk penyembuhan berbagai macam penyakit. Penggunaan organisme tersebut secara langsung ataupun tidak langsung mampu memberikan dampak penyembuhan yang signifikan terhadap kondisi tubuh. Di era modern ini, dibutuhkan adanya penemuan-penemuan baru untuk menunjang kesehatan manusia baik dari bahan-bahan alami maupun yang sengaja dibuat oleh manusia.
Penggunaan teknologi yang serba canggih dan modern, cukup memaksa manusia untuk mengikuti perkembangannya. Tidak terkecuali dalam dunia medis dan obat-obatan. Namun, penggunaan obat herbal yaitu bahan-bahan atau organisme yang ada di sekeliling kita tidak menutup kemungkinan untuk dijadikan jalan alternatif sebagai obat penyembuhan berbagai macam penyakit.
Salah satu jenis organisme yang digunakan adalah cacing tanah yang dikenal dengan nama ilmiah Lumbricus rubellus. Menurut kacamata manusia, cacing tanah termasuk hewan yang menjijikkan. Tetapi, di balik itu cacing tanah menyimpan khasiat yang sangat besar bagi tubuh manusia yang belum banyak kita mengetahuinya.
Cacing tanah dapat digunakan untuk menyembuhkan penyakit thypus yang disebabkan oleh bakteri Salmonella thyposa dan penyakit-penyakit lainnya seperti penyakit tekanan darah rendah, tekanan darah tinggi, kencing manis, reumatik dan penyakit kronis lainnya.
Maka dari itu penulis mengangkat judul “Cacing Tanah sebagai Obat Thypus” yang bertujuan untuk menjelaskan kepada masyarakat bahwa cacing tanah
mempunyai manfaat yang sangat besar untuk menyembuhkan penyakit tersebut serta agar masyarakat lebih mengetahui akan manfaat dari daging cacing tanah (Lumbricus rubellus).

1.2  Rumusan Masalah
Dalam melakukan penelitian ini, penulis telah menemukan berbagai masalah mengenai pemanfaatan cacing tanah sebagai obat thypus. Adapun permasalahan yang penulis temukan sebagai berikut:
1.    Apa saja manfaat cacing tanah (Lumbricus rubellus)?
2.    Bagaimana kandungan nutrisi cacing tanah (Lumbricus rubellus)?
3.    Apakah zat yang terdapat dalam daging cacing tanah sehingga dapat menyembuhkan penyakit thypus?
4.    Bagaimana cara pengolahan cacing tanah sehingga dapat menjadi obat yang siap dikonsumsi bagi penderita penyakit thypus?

1.3  Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan karya tulis ini adalah sebagai berikut:
1.    Guna memenuhi tugas semester mata pelajaran bahasa Indonesia tahun pelajaran 2012/2013.
2.    Meningkatkan dan menambah wawasan pengetahuan pembaca mengenai manfaat yang terkandung dalam daging cacing tanah (Lumbricus rubellus).
3.    Meneliti bagaimana proses pengolahan cacing tanah (Lumbricus rubellus) sebagai obat thypus.
4.    Mengetahui kandungan nutrisi dan zat dalam daging cacing tanah yang berguna bagi kesehatan manusia.
5.    Sebagai salah satu obat alternatif yang dapat digunakan untuk penyembuhan penyakit thypus.


1.4  Manfaat Penulisan
Adapun manfaat penulisan yang dapat kita ambil dari kegiatan penulisan karya tulis ini antara lain:
1.      Untuk mengetahui manfaat cacing tanah bagi penyembuhan penyakit thypus.
2.      Untuk mengetahui tentang cacing tanah, serta peranannya.
3.      Untuk mengetahui zat dalam daging cacing tanah (Lumbricus rubellus) dalam proses penyembuhan penyakit thypus.
4.      Masyarakat dapat mengetahui akan adanya obat herbal alami atau obat tradisional yang terkandung dalam daging cacing tanah (Lumbricus rubellus).

1.5  Metode Penulisan
Dalam penulisan karya tulis ini penulis menggunakan metode kepustakaan (literatur).
Metode literatur adalah teknik pengumpulan data dengan cara penulis membaca, menganalisa, mengolah dan menulis buku-buku sebagai sumber referensi. Dengan demikian penulis mampu untuk menganalisa manfaat cacing tanah tersebut dengan baik dan sistematis.

1.6  Sistematika Penulisan
Dalam karya tulis ini terdapat sistematika penulisan sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Terdiri dari : latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan, sistematika penulisan.
BAB II LANDASAN TEORI
Terdiri dari : klasifikasi cacing tanah secara ilmiah, pengertian cacing, struktur tubuh cacing tanah, reproduksi cacing tanah, penyakit thypus.



BAB III PEMBAHASAN
Terdiri dari : manfaat cacing tanah, kandungan nutrisi cacing tanah, zat yang terkandung dalam cacing tanah sebagai obat thypus serta bagaimana cara pengolahan cacing tanah.

BAB IV PENUTUP
Terdiri dari : kesimpulan dan saran.


















 
 BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Klasifikasi Ilmiah
Kerajaan   : Animalia
Filum        : Annelida
Kelas        : Clitellata
Ordo         : Haplotaxida
Upaordo   : Lumbricina
Families    : Acanthodrilidae
                   Criodrilidae
                   Eudrilidae
                   Glossoscolecidae
                   Lumbricidae
                   Megascolecidae
2.2 Pengertian Cacing (Vermes)
Dalam kehidupan sehari-hari, cacing diartikan sebagai hewan kecil, bertubuh memanjang, lunak, tidak berangka, dan tidak mempunyai kaki. Setiap tubuh cacing dapat dibedakan atas ujung depan (anterior), ujung belakang (posterior), permukaan punggung (dorsal), dan permukaan perut (ventral). Tubuh cacing bersifat simetris bilateral, artinya pada tubuh terdapat satu bidang simetris yang terletak di pusat memanjang, membagi tubuh menjadi bagian kanan dan kiri yang sama besar dan sama bentuknya.
Cacing atau vermes diklasifikasikan dalam filum annelida. Annelida (Yunani, annelus: cincin), dapat diartikan sebagai cacing yang tubuhnya bersegmen-segmen menyerupai cincin atau gelang.
Perbedaan utama antara annelida dan filum cacing lainnya adalah tubuhnya yang bersegmen-segmen. Setiap segmen menyerupai cincin atau ruas-ruas yang disebut somit. Segmentasi ini terjadi tidak hanya pada struktur luarnya, tetapi sampai ke struktur alat dalamnya.
Ciri-ciri Annelida:
a.       Tubuh bilateral simetris dan memiliki segmentasi tubuh yang jelas.
b.      Telah memiliki rongga tubuh yang sesungguhnya dan di dalamnya terdapat alat-alat dalam.
c.       Permukaan tubuh tertutup lapisan kutikula yang lembab.
d.      Alat tambahan (anggota tubuh) berupa rambut kecil menyerupai batang.
e.       Alat pencernaan makanan telah berkembang sempurna.
f.       Alat ekskresi berupa nefridium.
g.      Memiliki alat peredaran darah tertutup.
h.      Pernapasan dilakukan oleh seluruh permukaan tubuh.
i.        Sistem saraf berupa sepasang ganglion otak yang dihubungkan dengan tali saraf longitudinal.
j.        Bersifat hermafrodit.
Dinding tubuh Annelida terdiri atas tiga lapisan, yaitu lapisan ektoderm, mesoderm dan endoderm.
Rongga tubuh Annelida terjadi karena adanya lipatan mesoderm pada masa diferensiasi embrio. Lipatan mesoderm menyebabkan ada bagian mesoderm yang melekat pada endoderm disebut lapisan splanknik. Lapisan ini membentuk dinding otot dan saluran pencernaan. Sedangkan bagian yang menempel pada ektoderm disebut lapisan somatik yang merupakan bagian dari dinding tubuh.
Annelida merupakan organisme triploblastik selomata, artinya organisme yang dinding tubuh embrionya berlapis tiga dan telah mempunyai rongga tubuh sesungguhnya.
Klasifikasi Annelida
                 Annelida terbagi dalam tiga kelas, yaitu:
1.      Oligochaeta atau cacing berbulu sedikit, contohnya cacing tanah.
2.      Polychaeta atau cacing berbulu banyak, contohnya cacing wawo, dan
3.      Hirudinea atau golongan lintah dan pacet.
Dengan demikian, cacing tanah termasuk ke dalam kelas Oligochaeta.

2.3 Struktur Tubuh Cacing Tanah
Bentuk tubuh cacing tanah bulat panjang, dengan segmen tubuh berjumlah 15 sampai 200 buah. Setiap segmen (somit) mempunyai alat ekskresi, otot-otot dan pembuluh sendiri. Susunan tubuh semacam ini dikenal dengan nama metameri.
Pada somit ke-32 sampai 37 dari Lumbricus dan somit ke-10 sampai 11 dari Pheretima terdapat penebalan kulit dan lebih cerah, disebut Klitelum atau Sadel. Klitelum berfungsi untuk mengekskresikan materi-materi pembentuk kokon yang berisi telur.


2.4 Reproduksi Cacing Tanah
Cacing tanah berkembang biak secara kawin dan bersifat hermafrodit. Namun demikian, tidak dapat terjadi pembuahan sendiri.
Dua cacing yang kawin saling menempelkan tubuhnya dengan ujung kepala berlawanan. Mula-mula, alat kelamin jantan mengeluarkan sperma dan diterima oleh klitelum cacing pasangannya. Setelah itu, segera dibentuk kokon. Selanjutnya, di sebelah luar kokon terbentuk tabung lendir. Sementara itu, sperma pada klitelum bergerak ke alat reproduksi betina dan disimpan dalam seminal reseptakel. Pada saat ovum dikeluarkan dari ovarium dan melewati seminal reseptakel, ovum akan dibuahi. Ovum yang telah dibuahi masuk ke dalam kokon. Setelah itu, telur bersama kokon akan lepas dari tubuh cacing. Telur menetas di dalam kokon dan keluar sebagai individu baru.
2.5 Thypus
Penyakit types atau thypus disebabkan oleh bakteri Salmonella thyposa. Penyakit types atau thypus dikarenakan infeksi bakteri pada usus halus dan terkadang pada aliran darah.
Gejala awal dari penyakit ini adalah demam tinggi dan tidak turun, warna lidah penderita keabu-abuan, perut bagian bawah terasa sakit, nafsu makan berkurang karena lidah selalu merasakan pahit.
           





 
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Manfaat Lumbricus rubellus
Daging cacing tanah (Lumbricus rubellus) merupakan salah satu organisme hidup yang dapat digunakan sebagai alternatif pengobatan bagi kehidupan manusia. Banyak khasiat daging cacing tanah bagi kesehatan manusia. Lumbricus rubellus dapat menjadi obat yang manjur untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Di antaranya ialah penyakit tekanan darah rendah, tekanan darah tinggi, kecing manis, penyakit thypus, reumatik, disentri, maagh, muntaber, asma dan penyakit kronis lainnya.
Berbagai hasil penelitian pun telah menguak multimanfaat cacing tanah. Hewan ini mengandung barbagai enzim penghasil antibiotik dan asam arhidonat yang berkhasiat menurunkan demam. Sejak tahun 1990 di Amerika Serikat cacing ini dimanfaatkan sebagai penghambat pertumbuhan kanker. Di Jepang dan Australia, cacing tanah dijadikan sebagai bahan baku kosmetika. Penelitian laboratorium mikrobiologi fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Unpad Bandung tahun 1996 menunjukkan bahwa ekstrak cacing rubellus mampu menghambat pertumbuhan bakteri pathogen penyakit thypus dan diare.
Menurut Bambang Sudiarto, peneliti dari Lembaga Ekologi Universitas Padjajaran Bandung, cacing adalah sumber protein sangat tinggi, sekitar 76 %. Itu berarti lebih tinggi dibanding yang hanya 65 %, dan kacang kedelai yang hanya 45 %. Cacing tanah juga mengandung 15 jenis asam amino esensial dengan kadar yang sangat tinggi. Zat ini biasa digunakan untuk menyempitkan atau melebarkan pembuluh darah.

 
Cacing rubellus mempunyai beberapa kandungan yang bermanfaat bagi manusia jika dimakan, penyembuhan dengan memanfaatkan daging cacing dilakukan pada saat kita sehat. Penyembuhan itu harus melalui proses jauh sebelum sakit itu tiba, mereka yang sering menderita thypus, demam, batuk, flu dan lain-lain perlu banyak mengkonsumsi cacing agar memiliki ketahanan.
Memang tak ada informasi yang jelas, kapan cacing dianggap berkhasiat. Tapi, Lumbricus punya manfaat medis. Sudah diteliti para ilmuwan Amerika. Dari sanalah ditemukan bahwa Lumbricus punya kemampuan mengubah omega-6 menjadi omega-3. Omega-3 ini dapat mencegah terjadinya pengerasan pembuluh darah yang diakibatkan oleh lemak. Dalam penelitian itu juga dilakukan percobaan dengan mengisolasi bahan kimia yang ada pada tubuh Lumbricus rubellus. Kemudian menumbuhkannhya ke sel tubuh manusia. Ternyata bahan kimia itu dapat mengurangi gangguan di pembuluh arteri yang dapat mengakibatkan serangan jantung.
3.2 Kandungan Nutrisi Lumbricus rubellus
Daging Lumbricus rubellus memiliki beberapa kandungan nutrisi, di antaranya mengandung kadar protein sangat tinggi, yaitu sekitar 76 %. Kadar ini lebih tinggi dibandingkan dengan daging mamalia 65 % atau ikan 50 %. Begitu juga dengan asam-asam amino esensialnya. Selain itu bahan tersebut diketahui pula mengandunng alfa tokoferol atau vitamin f yang berfungsi sebagai antioksidan.
Selain itu menurut Laverach (1963) kandungan nutrisi daging Lumbricus rubellus terdiri dari 16 % protein, 17 % karbohidrat, 45 % lemak dan abu 1,5 %. Sedangkan kadar bahan keringnya 16,38 %, kandungan protein 53,5-71,5 % dimiliki Lumoricus terrestris dengan kadar bahan antara 15-20 %. Hewan-hewan ini juga mengandung protein asam amino berkadar tinggi yang sangat diperlukan untuk kekebalan tubuh melawan berbagai macam penyakit.


3.3 Zat Penyembuh Penyakit Thypus
Demam merupakan gejala awal berbagai penyakit manusia. Penyebab demam bisa berbagai macam, tetapi umumnya gejala peningkatan suhu tubuh harus segera diatasi karena dapat mengakibatkan efek lain yang lebih berbahaya.
Demam dapat terjadi karena peningkatan titik patokan suhu di hipotalamus. Jika sel tubuh terluka oleh rangsangan pirogen seperti bakteri, virus, atau parasit, membran sel yang tersusun oleh fosfolipid akan rusak.
Salah satu komponen asam lemak fosfolipid, yaitu asam arakidonat, akan terputus dari ikatan molekul fosfolipid dibantu oleh enzim fosfolipase. Asam arakidonat akan membentuk prostaglandin dengan bantuan enzim siklooksigenase. Prostaglandin inilah yang merangsang hipotalamus untuk meningkatkan suhu tubuh. Gejala demam dapat diatasi dengan obat yang mengandung zat antipiretik. Ketika gejala demam muncul, umumnya orang akan menggunakan parasetamol untuk mencegah kenaikan suhu tubuh lebih lanjut.
Parasetamol memang obat antipiretik umum. Harganya terjangkau dan mudah didapat. Hanya saja, obat ini juga cukup banyak efek sampingnya. Selain itu, parasetamol hanya mengurangi gejala demam saja tanpa membunuh akar penyebab demam tersebut.
Pemanfaatan cacing tanah untuk antipiretik lebih aman karena tidak menimbulkan efek toksik bagi manusia sehingga aman dikonsumsi. Satu-satunya efek toksik cacing tanah adalah cacing tanah dapat mengakumulasi logam berat yang ada pada tanah dalam tubuhnya. Cacing tanah dapat menoleransi logam berat dalam konsentrasi yang cukup tinggi. Namun, hal ini dapat diatasi dengan vermikultur, yaitu membuat media tumbuh yang baik bagi cacing tanah. Penampakan tubuh cacing tanah yang tercemar pun mudah dibedakan dengan yang normal.
Pengujian ekstrak cacing untuk melihat aktivitasnya sebagai antipiretik dilakukan menggunakan hewan coba tikus putih yang didemamkan dengan penyuntikan vaksin campak. Suhu normal tikus putih sama dengan manusia, yaitu berkisar antara 35,9 hingga 37,5 derajat celcius. Tikus putih yang sudah demam diobati dengan ekstrak cacing tanah dan parasetamol sebagai kontrol. Setelah didemamkan, suhu tubuh tikus putih diukur dan diamati pergerakan suhunya. Kelompok tikus putih yang tidak diberi pengobatan, meningkat suhunya sebesar 0,8 derajat celcius. Hal ini menunjukkan bahwa kenaikan suhu tikus putih yang didemamkan dapat ditahan oleh ekstrak cacing tanah karena di dalamnya terdapat zat antipiretik.
3.3.1        Senyawa Golongan Alkaloid
            Dari serangkaian pengujian kimia, diketahui bahwa senyawa aktif sebagai antipiretik dari ekstrak cacing tanah adalah golongan senyawa alkaloid. Pengujian memang belum dapat menentukan nama senyawanya secara tepat. Golongan senyawa alkaloid mempunyai ciri mengandung atom nitrogen (bandingkan dengan struktur parasetamol yang juga memiliki atom nitrogen) dan bersifat basa (pH lebih dari 7).
Contoh alkaloid yang paling terkenal adalah nikotin dari tembakau. Seperti senyawa aktif lainnya, jika dikonsumsi berlebihan, dapat menjadi racun juga. Golongan alkaloid memang sudah banyak ditemukan dari ekstrak tumbuhan maupun hewan dan sebagian besar di antaranya memiliki efek farmakologi.
3.4 Cara Pengolahan Cacing Tanah
Ada beberapa cara atau proses dalam mengolah daging Lumbricus rubellus, di antaranya adalah:
A.  Proses Sangan (menggoreng tanpa minyak)
Tata caranya sebagai berikut:
1.      Ambil cacing tanah yang besar 3 atau 5 biji, cuci dengan air.
2.      Ambil penggorengan (saya sarankan dari tanah liat agar tidak lengket), goring atau sangan cacing tanah tersebut di atas penggorengan hingga gosong.
3.      Setelah cacing tanah menjadi gosong, angkat dan tiriskan.
4.      Ambil cacing tanah yang gosong tadi untuk dimakan bersama pisang.
5.      Konsumsi lima kali sehari untuk kesembuhan lebih cepat.
B.  Proses pengolahan kapsul cacing tanah yang dilakukan dengan sistem higroscopy, yaitu kandungan air cacing tanah diserap dengan menggunakan kain kasa.
C.  Rebusan Cacing Tanah
Tata caranya sebagai berikut:
1.      Cari cacing tanah merah yang bentuknya kecil-kecil.
2.      Besihkan dan pastikan sudah tidak ada unsur tanah atau kotoran lain, sekedar untuk menjaga hiegenisnya saja.
3.      Tuangkan air kira-kira tiga gelas untuk ukuran diminum tiga kali sehari.
4.      Masukkan cacing dan rebus hingga mendidih.
5.      Saring dan ambil airnya saja.
6.      Dinginkan sebentar atau minumkan hangat-hangat.


                                   




 
BAB IV
PENUTUP
4.1  Kesimpulan
Daging cacing tanah (lumbricus rubellus) adalah salah satu organisme yang dapat dijadikan sebagai obat herbal alternatif dalam upaya penyembuhan berbagai penyakit khususnya penyakit thypus. Terbukti dengan adanya berbagai riset yang dilakukan oleh para ahli tentang uji khasiat daging cacing tanah dan telah disimpukan bahwa dalam tubuh cacing tanah mengandung zat antipiretik yang berguna bagi proses penyembuhan penyakit thypus serta tidak menimbulkan efek samping sehingga aman untuk dikonsumsi.
       Daging cacing tanah mengandung berbagai nutrisi yaitu terdiri dari senyawa protein, karbohidrat, lemak dan abu yang sangat diperlukan untuk kekebalan tubuh dalam melawan berbagai macam penyakit.
       Pengolahan cacing tanah cukup mudah, sehingga bisa dilakukan sendiri sesuai dengan petunjuk yang ada. Adapun cara pengolahannya, yaitu dengan proses sangan (menggoreng tanpa minyak), menggunakan sistem hicroscopy (proses pengolahan dalam bentuk kapsul) dan air rebusan cacing tanah. Sehingga bisa dikatakan cacing tanah mempunyai struktur tubuh yang kecil tetapi memiliki manfaat yang kompleks.

4.2  Saran

 
       Di zaman sekarang banyak orang cenderung mengkonsumsi obat dokter dalam upaya penyembuhan berbagai penyakit serta mengesampingkan hal-hal kecil yang justru dapat dimanfaatkan sebagai obat. Sebagai penulis, saya berharap masyarakat bisa lebih mengkaji manfaat-manfaat dari organisme di sekelilingnya yang cenderung lebih murah dan efisien serta dapat menghidupkan kembali obat-obat tradisional yang ada di Indonesia.


 
DAFTAR PUSTAKA

Prawirohartono, Slamet dan Sri Hidayati. 2007. Sains Biologi 1 SMA/MA. Jakarta: Bumi Aksara
http: //biologi.blogsome.com
http: //isharmanto.blogspot.com
http: //wb3.itrademarket.com/pdimage/68/1248868 redworms2.jpg
http://kalemsblog.com
http://digilib.upi.edu/pasca/available/etd-0105107-125417


Tidak ada komentar:

Posting Komentar